"Kok dia bisa masuk duluan sih?" Kata cewek SMA yang lagi manyun di sebuah antrian.
"Kok enak sih bisa dapet gratis?" Kata ibu-ibu cantik yang lagi dengerin cerita di arisan.
Denger kata-kata itu, gw mendengar irama iri di setiap ketukan nadanya.
Dulu gw juga, seirama. Sekarang gw senyum doang tanpa nada.
Gw malah cenderung menghargai orang-orang yang bisa dapetin prioritas itu.
Entah dengan cara baik atau buruk, I'm totally okey with that.
Namun, bukan berarti gw setuju dengan cara kotor yah, :)
Yang gw tangkep dari ilustrasi di atas adalah "There are two ways to pay, Money and Relationship"
Kunci dari keduanya yaitu kepercayaan.
Dilihat dari sisi pemberi "cuma-cuma" atau gw sebut juga sebagai si pemberi prioritas, Dia membutuhkan kepercayaan untuk memberi.
Apa iya, orang yg gw beri ga akan menyia-nyiakan pemberian gw? Kalau-kalau gw beruntung, akan ada timbal baliknya ke gw.
Memberi juga bisa hanya sekedar rasa terima kasih dan menghargai hubungan yang ada.
Bahkan cuma sekedar basa-basi norma sosial.
Tapi ada sedikit unsur ekspektasi untuk tidak dikecewakan.
Namun, terkadang membangun sebuah hubungan secara langsung itu nggak mudah.
Maka ada cara cepat, tanpa ikatan, adil rata, fair, dan semua orang setuju dengan standard nilainya.
Yaitu uang.
Uang itu lugas, langsung bayar, selesai seketika, tak ada utang budi, tak ada ekspektasi, sama-sama setuju dengan harga yang ada, tak banyak bicara, cepat.
Cara mana yang baiknya digunakan?
Oknum mana yang lebih layak untuk investasi sebuah hubungan atau sekedar uang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar