Suara kipas angin konstan di telinganya, kaki dan sebagian tubuhnya mecoba menghangatkan lantai keramik yang lembab.
Warna tembok putih mendominasi pandangan matanya. Ia seperti terjebak di sebuah kotak putih.
Kondisi ini selucu cheese cake yang siap di bawa pulang dari sebuah bakery. Dan tersimpan rapi dalam kotak putih.
Tapi dia tak selucu itu, juga tak serapi itu.
Momennya berbeda, ini cerita sedih, tak bisa dimulai dengan kelezatan cheese cake.
Mari coba dikoreksi lagi, paragraf ini bukan tentang makanan dan bukan sedih.
Hanya terjebak. Terjebak dalam rutinitas, terjebak dalam pikiran, terjebak dalam sebuah kepercayaan, terjebak dalam persetujuan, terjebak di sebuah cerita yang panjang.
Hingga saat dia mencoba berhenti sejenak dan melihat ke arahnya sendiri.
Didapati dirinya sedang terduduk dingin dengan segala ketidakmampuan, dan terengah-engah oleh usaha terbaiknya.
Lelah dan terjaga.
29.3.13
21.3.13
a message from Dad
Mendapat pesan dari jauh, "yang diijinkan dalam tekanan akan menghasilkan sesuatu yang manis."
Gw suka kata "diijinkan", sejenis deskripsi untuk sesosok orang ketiga.
It means that you are not alone, Someone takes care of you, through good and bad.
Dia pasti lebih tahu apa yang sebaiknya terjadi dan tidak.
Karena orang ketiga ibarat sutradara atau penonton film.
Mengetahui keseluruhan cerita. Melihat dari perspektif yang berbeda.
Thank you Daddy for your text message. :)
Gw suka kata "diijinkan", sejenis deskripsi untuk sesosok orang ketiga.
It means that you are not alone, Someone takes care of you, through good and bad.
Dia pasti lebih tahu apa yang sebaiknya terjadi dan tidak.
Karena orang ketiga ibarat sutradara atau penonton film.
Mengetahui keseluruhan cerita. Melihat dari perspektif yang berbeda.
Thank you Daddy for your text message. :)
Categories:
monolog
14.3.13
3.3.13
PANGGUNG JAKARTA
Ekspektasi gw standard. Jalan sehat melewati bisingnya kemacetan, ke gedung mewah disana.
Panca indera telinga yang semula gw abaikan tiba-tiba seperti mencari perhatian.
"Eh, Eh.. Dengerin-dengerin!" begitu teriaknya.
"Apasih." Gw pun mulai penasaran dengan antusiasmenya.
Ada suara yang beredar di udara menyapa malu-malu, mungkin dia bilang permisi dulu.
Dan matakupun mulai ikut penasaran mengikuti kemana mata kakiku membawanya. Berdua-dua mencari arah alunan nada itu berasal.
Suaranya familiar, musik romantis barat.
Tapi suasananya tak biasa.
Come on! Ini Jakarta. Ini cuma tempat penyebrangan. Ini dimana acuh tak acuh menjadi satu. Ini bukan tempat paling penting untuk menjadi sebuah tujuan. Hanya akan dilewati, bukan dinikmati.
"..........."
Tanpa komando, pasukan panca indera ku berteriak bersama " Itu Dia". Sesosok pria dengan seksofonnya sedang mengamen di panggung besi.
Judulnya, Konser kecil bersama orkestra angin.
Tanpa pikir panjang, tanganku tak tahan memberinya salam dengan selembar hormat kertas Indonesia.
Panca indera telinga yang semula gw abaikan tiba-tiba seperti mencari perhatian.
"Eh, Eh.. Dengerin-dengerin!" begitu teriaknya.
"Apasih." Gw pun mulai penasaran dengan antusiasmenya.
Ada suara yang beredar di udara menyapa malu-malu, mungkin dia bilang permisi dulu.
Dan matakupun mulai ikut penasaran mengikuti kemana mata kakiku membawanya. Berdua-dua mencari arah alunan nada itu berasal.
Suaranya familiar, musik romantis barat.
Tapi suasananya tak biasa.
Come on! Ini Jakarta. Ini cuma tempat penyebrangan. Ini dimana acuh tak acuh menjadi satu. Ini bukan tempat paling penting untuk menjadi sebuah tujuan. Hanya akan dilewati, bukan dinikmati.
"..........."
Tanpa komando, pasukan panca indera ku berteriak bersama " Itu Dia". Sesosok pria dengan seksofonnya sedang mengamen di panggung besi.
Judulnya, Konser kecil bersama orkestra angin.
Tanpa pikir panjang, tanganku tak tahan memberinya salam dengan selembar hormat kertas Indonesia.
Categories:
monolog
Langganan:
Komentar (Atom)
