29.3.13

Trapped on a White Box

Suara kipas angin konstan di telinganya, kaki dan sebagian tubuhnya mecoba menghangatkan lantai keramik yang lembab.
Warna tembok putih mendominasi pandangan matanya. Ia seperti terjebak di sebuah kotak putih.
Kondisi ini selucu cheese cake yang siap di bawa pulang dari sebuah bakery. Dan tersimpan rapi dalam kotak putih.
Tapi dia tak selucu itu, juga tak serapi itu.
Momennya berbeda, ini cerita sedih, tak bisa dimulai dengan kelezatan cheese cake.
Mari coba dikoreksi lagi, paragraf ini bukan tentang makanan dan bukan sedih.
Hanya terjebak. Terjebak dalam rutinitas, terjebak dalam pikiran, terjebak dalam sebuah kepercayaan, terjebak dalam persetujuan, terjebak di sebuah cerita yang panjang.
Hingga saat dia mencoba berhenti sejenak dan melihat ke arahnya sendiri.
Didapati dirinya sedang terduduk dingin dengan segala ketidakmampuan, dan terengah-engah oleh usaha terbaiknya.
Lelah dan terjaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar