Ekspektasi gw standard. Jalan sehat melewati bisingnya kemacetan, ke gedung mewah disana.
Panca indera telinga yang semula gw abaikan tiba-tiba seperti mencari perhatian.
"Eh, Eh.. Dengerin-dengerin!" begitu teriaknya.
"Apasih." Gw pun mulai penasaran dengan antusiasmenya.
Ada suara yang beredar di udara menyapa malu-malu, mungkin dia bilang permisi dulu.
Dan matakupun mulai ikut penasaran mengikuti kemana mata kakiku membawanya. Berdua-dua mencari arah alunan nada itu berasal.
Suaranya familiar, musik romantis barat.
Tapi suasananya tak biasa.
Come on! Ini Jakarta. Ini cuma tempat penyebrangan. Ini dimana acuh tak acuh menjadi satu. Ini bukan tempat paling penting untuk menjadi sebuah tujuan. Hanya akan dilewati, bukan dinikmati.
"..........."
Tanpa komando, pasukan panca indera ku berteriak bersama " Itu Dia". Sesosok pria dengan seksofonnya sedang mengamen di panggung besi.
Judulnya, Konser kecil bersama orkestra angin.
Tanpa pikir panjang, tanganku tak tahan memberinya salam dengan selembar hormat kertas Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar