20.8.15

tumpahan mentah-mentah

menenggelamkan diri dalam air yang tenang
mempertemukan wajah-wajah sendiri dalam kedalaman yang terdalam
menghembuskan nafas seakan benar-benar berarti
mencari tahu akar dari segala kegundahan
kepada siapa bisa mempercayakan keinginan dan kehampaan
mencari Tuhan dengan usaha-usaha kedagingan
mencari jawaban dalam wujud seorang manusia
mencari tahu kebenaran dan berujung pada pembenaran semata
melarikan diri seakan melawan angin yang menghalang
memperkenalkan tubuh terhadap gerakan-gerakan yang berlawanan
mengetikan jari dengan huruf-huruf yang siap untuk dikaitkan
mendengarkan irama-irama yang ternyata terbaris dari sebuah dentuman
menenangkan hati yang tak mudah dikenali
menjernihkan pikiran dari gambaran-gambaran hasil proyeksi mata
menenangkan pikiran untuk tidak terus membaca dunia
menyadari bahwa ini semua hanya bagian dari keseharian
meyakinkan diri untuk bisa menikmatinya dengan cara-cara yang benar
membicarakannya dengan alam semesta
aku hanya satu iota diantara rangkaian bima sakti

*sedang tak ingin merangkai kata, hanya ingin menumpahkannya mentah-mentah.
beginilah aku merasa lebih tenang.

21.7.15

YOU

If I have to think
Or I should not think,
and What I always try to ignore
but then I still think
because I'm focusing on not thinking about
It is YOU... It's all about YOU...

19.7.15

HER


BERLARI DARI MASA KE MASA

Ini hari ke 104, dan aku sendiri dalam kotak kecilku, aku tak dapat berhenti memikirkanmu.
Namun, dalam tenggelamnya pikiranku terhadapmu, tak jarang terhenti pada pemikiran baru.

-

Aku dan kamu telah terjebak dalam pemikiran-pemikiran kita sendri.
Yang membuahkan imajinasi akan hari-hari yang tak tersentuh.
Kita lupa, kita sudah memiliki hari ini.
Kita lupa, kita sedang memiliki masa ini.

Aku dan kamu suka sekali menenggelamkan diri pada sebuah konsep.
Dimana kamu dan aku menamainya masa depan.
Masa dimana imajinasi mampu menelan kita ke dalam kepuasannya, melintasi ruang dan waktu.

Aku dan kamu berlari lebih cepat dari hari ini, menuju hari esok.
Kamu dan aku berlari terlalu cepat dari hari esok, menuju hari depan.
Hanya demi segenggam harapan.
Harapan yang kita pikir... yah, itu hanya yang kita pikir. Tidak pernah benar-benar kita genggam.
Pikiran dimana kita bisa bermain-main dengan harapan.

Jika masa ini tak ada kenyamanan, kita melarikan diri menuju masa depan.
Bagaikan manusia maha-kuasa, yang mampu menganalisa ruang dan waktu.
Jika masa depan tak ada kenyamanan, kita melarikan diri menuju masa sekarang.
Saat paling tepat, dimana kita bisa maha-bijak berkata "jalani saja"

Rotasi tiada henti dari masa ke masa,
Rotasi kekalahan, yang terus menghantui.
Kenapa kau takut terkalahkan?
Kenapa kau takut untuk roboh? Namun, kau tak takut tenggelam?
Padahal saat kau tenggelam, kau mulai kehilangan dirimu dan termanipulasi olehnya.
Padahal saat kau roboh, kau terbebaskan.
Hantu mana yang bisa menghantui dirimu lagi?
Saat kau roboh, tak ada yang bisa dirobohkan lagi.
Hanya berserakan serpihan kebebasan, namun itu tetap kamu, serpihanmu.

28.6.15

ANGIN MEMPERBINCANGKAN

Berjalan sepanjang 2 kilometer menjadi kesenanganku akhir-akhir ini.
Kejanggalan ini bermula dari teman lama yang melatihku melaluinya.
Sempat terlintas di pikiranku,
Entah dengan kekuatan apa, saat itu aku mampu memaksa telapak kakiku untuk terus menapak.
Sepertinya dengan kekuatan powerpuff girls, karena aku tahu bahwa aku tak se-seksi wonder woman.

Setapak demi setapak yang kujalani, selalu membawaku ke tempat-tempat dimana hatiku terhenti disana.
Aku telah menghentikan hatiku dimana-mana.
Hatiku seperti mata-mata,
Walaupun kakiku telah melangkah pergi dari sana,
ia tetap bisa menjelaskan kepadaku akan perasaan, gambaran, dan kenangan-kenangan yang tertinggal di bangunan-bangunan indah yang ku kunjungi.

Terkadang aku masih heran, mengingat aku mampu melampaui batas langkahku.
Mungkin karena temanku tahu cara mengumpaniku, dan menyabariku untuk belajar menikmatinya.
"Jangan kau hitung seberapa jauh tujuanmu, tapi nikmatilah setiap tapakmu dan mulai berbicaralah dengan angin yang selalu menemanimu." begitu katanya.
Dan aku mulai mengikuti petunjuknya, saat itu juga keluhan-keluhanku memudar.
Lalu aku mulai bercengkrama dengan angin, dan juga dengannya.

Aku mulai penasaran dan kegirangan saat mampu berbicara langsung dengan angin-angin malam.
Angin mulai bercerita, dan mengajakku memandang atap yang begitu luas.
"Ini rumahmu yang sesungguhnya, tapi orang-orang itu selalu berusaha memiliki rumah-rumah baru mereka." kata Angin.
"Angkatlah kepalamu, dan kau akan tahu betapa menakjubkannya saat kau mengerti, rumahmu tak hanya setinggi 3 meter."
"Manusia-manusiamu selalu memaksa dan gelisah akan atap-atap kecil mereka."
"Mereka lupa bahwa dimanapun mereka berjalan, ini adalah rumah mereka..."

-

Itu adalah sepenggal cerita lama, ketika aku diperkenalkan dengan si angin.
Akhir-akhir ini, nafasku sudah lepas saat aku berjalan,
Keluhanku terbang menjadi kepuasan.
Gelisahku selalu didengarkannya, didengarkan oleh si angin.
Angin yang tak beratap, emm... maksudku Angin yang tak bersayap, dan Langit yang tak beratap.

Benar, gusarmu bisa lenyap
Jika kau perbincangkan dengan teman-temanmu.
Jika kau perbincangkan dengan angin-anginmu.

Angin juga siap menjagaku berjalan, hingga aku tiba di tempat perhentianku untuk berteduh.
Apalagi saat dia tahu, sekarang aku sering berjalan tanpa tanpa lamaku.

10.2.15

SURAT MAAF KEPADA BLOG INI

Maaf, kepada kamu : lembaran-lembaran kosong yang kutinggalkan.
Hampir satu tahun aku tak menjamahmu dengan jemariku.
Aku tertidur...
Tertidur bersama lembaran-lembaran lain yang tak bisa berhenti kubaca.

Selama ini aku berhenti menulis.
Aku hanya membaca.
Melemah dalam ritual-ritual permainan kata yang menguatkan asumsi-asumsi kita.
Kucoba membagi asumsi-asumsi kita selama ini dengan lembaran-lembaran lain.
Yang dengannya, aku tak bisa berhenti membaca.

Membaca gerak-geriknya.
Membaca tutur katanya.
Membaca buah pikirnya.
Membaca nafsu dan itikat baiknya.
Setia membaca, sampai aku lupa dengan mu.

Bukan mauku sengaja, namun dia mencoba mengambil alih bagianmu.
Bagian di saat-saat kita semestinya saling berbagi pemikiran.
Mempertanyakan dunia, mepertanyakan sekitar, dan terpuaskan dengan jawaban-jawaban yang kita rangkai bersama.

Namun km selalu setuju denganku, mendengar dan tenang.
Karena itu, dahulu aku sering menyapamu.
Namun dia tidak selalu setuju denganku, mendengar dan memercikkan api.
Kita kira, sepaham itu bahagia.
Ternyata, tak sepaham juga bisa bahagia.
Percikannya membuatku terlena, namun juga sakit.
Sakit itu artinya nyata. Bukan hanya cerita yang bisa kubaca.
Maaf, atas tidurku.
Maaf, aku jatuh cinta.

7.4.14

pardigm

"Imagine if the life that you thought you shared
Wasn't really there.
It was made up in your mind,
Could be anyone/anywhere,

Cause you'd been living in a world of your own design, undermined,
In another place other space in time.

Imagine if the hope that you thought you knew
Wasn't really true!
It just existed in your head.
The reflection used wasn't you,

Completely unaware could be anywhere/any time,
'Cause there was shift in the paradigm."

Clean Bandit - Dust Clears

1.10.13

detik-detik

"Mencari detik-detik jarum jam, 
untuk memberi ketukan pada mimpi - mimpi yang tertunda"

2.9.13

Wake Me Up When September Ends


25.8.13

honest

      "An honest answer
          is like a warm hug."

- Proverbs 24 : 26 (The Message)