Maaf, kepada kamu : lembaran-lembaran kosong yang kutinggalkan.
Hampir satu tahun aku tak menjamahmu dengan jemariku.
Aku tertidur...
Tertidur bersama lembaran-lembaran lain yang tak bisa berhenti kubaca.
Selama ini aku berhenti menulis.
Aku hanya membaca.
Melemah dalam ritual-ritual permainan kata yang menguatkan asumsi-asumsi kita.
Kucoba membagi asumsi-asumsi kita selama ini dengan lembaran-lembaran lain.
Yang dengannya, aku tak bisa berhenti membaca.
Membaca gerak-geriknya.
Membaca tutur katanya.
Membaca buah pikirnya.
Membaca nafsu dan itikat baiknya.
Setia membaca, sampai aku lupa dengan mu.
Bukan mauku sengaja, namun dia mencoba mengambil alih bagianmu.
Bagian di saat-saat kita semestinya saling berbagi pemikiran.
Mempertanyakan dunia, mepertanyakan sekitar, dan terpuaskan dengan jawaban-jawaban yang kita rangkai bersama.
Namun km selalu setuju denganku, mendengar dan tenang.
Karena itu, dahulu aku sering menyapamu.
Namun dia tidak selalu setuju denganku, mendengar dan memercikkan api.
Kita kira, sepaham itu bahagia.
Ternyata, tak sepaham juga bisa bahagia.
Percikannya membuatku terlena, namun juga sakit.
Sakit itu artinya nyata. Bukan hanya cerita yang bisa kubaca.
Maaf, atas tidurku.
Maaf, aku jatuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar