Seekor burung kecil sedang melatih kepak sayapnya.
Seolah ia tahu pasti, suatu saat nanti ia pasti akan terbang.
Walau tak seoranngpun pernah mengatakan, untuk sekedar menyulut harapan.
Mata naif nya berkata bahwa ia mengerti takdirnya.
Hingga suatu hari, ia siap untuk terbang.
Berbekal antusiasisme, optimisme, dan sedikit logika.
Entah ia akan kembali atau tidak, itu urusan nanti, begitu pikirnya.
........
Sangkarpun telah ditinggalkan oleh seekor burung.
Kepak sayapnya makin mantap dan kencang.
Namun semakin ia terbang tinggi, semakin ia mendengar bisikan yang selalu menemaninya.
Oh, ternyata dia terbang sambil membawa hati kecilnya.
Hati kecilnya membisikkan kebijaksanaan.
Ada waktu untuk terbang. Ada waktu untuk pulang.
Sekarang ia mengerti, mengapa ia harus pulang untuk sesekali.
Untuk mengukur seberapa jauh ia terbang dan seberapa tinggi keberadaanya.
Karena titik ukur nol, ditemukan pada sangkarnya.
Sehingga ketika terbang terlalu jauh, ia tahu siapa dia sebenarnya.
Dan ketika telah terlalu tinggi, ia tahu bagaimana bersyukur dalam kendalinya.

.jpg)
.jpg)





