13.10.12

Cerita Pendek: "Pikiran Liar di Kedai Kopi"

Tatapannya kedepan, bola matanya mencari-cari lorong mana yang seakan mampu menarik kaki lugunya untuk menyusur lebih dalam.
Ada sedecak kegentaran karena ia menyukai kepastian. Namun hatinya tak sabar melihat daya tarik di ujung jalan itu. Bibirnya mengatup, gigi2 didalamnya beradu santai.
Sementara pikirannya bekerja keras, sayup2 terdengar buah bibir orang disekelilingnya.
Beruntung, Ia tahu pasti apa yang ia ingini.
Disana mungkin tidak banyak kerabat dan kolega seperti di persimpangan jalan raya ini, tapi tikungan disudut jalan itu akan membawanya ke jalan yang baru. Kalaupun dia kehilangan arah, dia tahu cara kembali ke rumah.

Aku ingin tahu ada apa dibalik gedung2 indah yang saling berbaris secara perspektif diantara dua parit kecil itu. Disana mungkin ada pemukiman lain.
Meski ada beberapa gang lain, tapi aku suka yang satu ini. Bentuk bangunannya memang tidak begitu banyak liku, namun bersiku.
Bermain warna dan garis saja, atau bisa juga diimbuhi beberapa typography sederhana. Kata mereka itu grafis namanya. oh! memanjakan mata!
Aku mulai menyusurinya, ada tembok2 bata yang tersusun rapi, namun tidak benar2 terlapisi dengan sempurna. Artistik dan tidak egois.
Warna natural mendominasi gang ini, seperti tahu cara beradu dengan warna yang paling sombong sekalipun. Mereka bersatu.
Mereka berdiri membatasi wewangian secangkir kopi yang tetap berkeliaran diantara ventilasi.
Tawa bebas dan pikiran-pikiran gila memainkan iramanya masing-masing. Ada orkestra manusia.
Pemain orkestra sekarang punya gaya, tidak begitu suka menyendiri lagi, mereka bersama-sama bernyanyi pop. Tidak untuk kesenangan telinga masing-masing.
Walau kadang tetap saja ada konflik akibat idealisme semu.

Kualihkan mataku dari gedung ini, dan mulai berjalan lagi,... maju.
Pikirku aku masih berkeliaran di gang yang tadi. Ternyata tapak kakiku dan pandangan mataku sudah terpisah jauh.
Tersadar, aku telah duduk di sebuah kursi orkestra, yang disekat oleh dinding semen bergaya industrial. Dan diterangi oleh lampu2 maskulin dimana mereka mampu bergelantungan secara feminin.
Kugigit roti cokelat ditanganku. Tanpa sadar aku baru saja larut dalam rasa manis itu. Mulutku mengunyahnya, dan melanjutkan perbincangan dengan teman baru diseberang kursiku.
Kualihkan pandangan ke layar sentuh ditangan ku. "Gw mau check in dulu nih,". Aku mengetik Kedai Kopi di daerah Jakarta Pusat pada aplikasi foursquare-ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar