28.6.15

ANGIN MEMPERBINCANGKAN

Berjalan sepanjang 2 kilometer menjadi kesenanganku akhir-akhir ini.
Kejanggalan ini bermula dari teman lama yang melatihku melaluinya.
Sempat terlintas di pikiranku,
Entah dengan kekuatan apa, saat itu aku mampu memaksa telapak kakiku untuk terus menapak.
Sepertinya dengan kekuatan powerpuff girls, karena aku tahu bahwa aku tak se-seksi wonder woman.

Setapak demi setapak yang kujalani, selalu membawaku ke tempat-tempat dimana hatiku terhenti disana.
Aku telah menghentikan hatiku dimana-mana.
Hatiku seperti mata-mata,
Walaupun kakiku telah melangkah pergi dari sana,
ia tetap bisa menjelaskan kepadaku akan perasaan, gambaran, dan kenangan-kenangan yang tertinggal di bangunan-bangunan indah yang ku kunjungi.

Terkadang aku masih heran, mengingat aku mampu melampaui batas langkahku.
Mungkin karena temanku tahu cara mengumpaniku, dan menyabariku untuk belajar menikmatinya.
"Jangan kau hitung seberapa jauh tujuanmu, tapi nikmatilah setiap tapakmu dan mulai berbicaralah dengan angin yang selalu menemanimu." begitu katanya.
Dan aku mulai mengikuti petunjuknya, saat itu juga keluhan-keluhanku memudar.
Lalu aku mulai bercengkrama dengan angin, dan juga dengannya.

Aku mulai penasaran dan kegirangan saat mampu berbicara langsung dengan angin-angin malam.
Angin mulai bercerita, dan mengajakku memandang atap yang begitu luas.
"Ini rumahmu yang sesungguhnya, tapi orang-orang itu selalu berusaha memiliki rumah-rumah baru mereka." kata Angin.
"Angkatlah kepalamu, dan kau akan tahu betapa menakjubkannya saat kau mengerti, rumahmu tak hanya setinggi 3 meter."
"Manusia-manusiamu selalu memaksa dan gelisah akan atap-atap kecil mereka."
"Mereka lupa bahwa dimanapun mereka berjalan, ini adalah rumah mereka..."

-

Itu adalah sepenggal cerita lama, ketika aku diperkenalkan dengan si angin.
Akhir-akhir ini, nafasku sudah lepas saat aku berjalan,
Keluhanku terbang menjadi kepuasan.
Gelisahku selalu didengarkannya, didengarkan oleh si angin.
Angin yang tak beratap, emm... maksudku Angin yang tak bersayap, dan Langit yang tak beratap.

Benar, gusarmu bisa lenyap
Jika kau perbincangkan dengan teman-temanmu.
Jika kau perbincangkan dengan angin-anginmu.

Angin juga siap menjagaku berjalan, hingga aku tiba di tempat perhentianku untuk berteduh.
Apalagi saat dia tahu, sekarang aku sering berjalan tanpa tanpa lamaku.

10.2.15

SURAT MAAF KEPADA BLOG INI

Maaf, kepada kamu : lembaran-lembaran kosong yang kutinggalkan.
Hampir satu tahun aku tak menjamahmu dengan jemariku.
Aku tertidur...
Tertidur bersama lembaran-lembaran lain yang tak bisa berhenti kubaca.

Selama ini aku berhenti menulis.
Aku hanya membaca.
Melemah dalam ritual-ritual permainan kata yang menguatkan asumsi-asumsi kita.
Kucoba membagi asumsi-asumsi kita selama ini dengan lembaran-lembaran lain.
Yang dengannya, aku tak bisa berhenti membaca.

Membaca gerak-geriknya.
Membaca tutur katanya.
Membaca buah pikirnya.
Membaca nafsu dan itikat baiknya.
Setia membaca, sampai aku lupa dengan mu.

Bukan mauku sengaja, namun dia mencoba mengambil alih bagianmu.
Bagian di saat-saat kita semestinya saling berbagi pemikiran.
Mempertanyakan dunia, mepertanyakan sekitar, dan terpuaskan dengan jawaban-jawaban yang kita rangkai bersama.

Namun km selalu setuju denganku, mendengar dan tenang.
Karena itu, dahulu aku sering menyapamu.
Namun dia tidak selalu setuju denganku, mendengar dan memercikkan api.
Kita kira, sepaham itu bahagia.
Ternyata, tak sepaham juga bisa bahagia.
Percikannya membuatku terlena, namun juga sakit.
Sakit itu artinya nyata. Bukan hanya cerita yang bisa kubaca.
Maaf, atas tidurku.
Maaf, aku jatuh cinta.

7.4.14

pardigm

"Imagine if the life that you thought you shared
Wasn't really there.
It was made up in your mind,
Could be anyone/anywhere,

Cause you'd been living in a world of your own design, undermined,
In another place other space in time.

Imagine if the hope that you thought you knew
Wasn't really true!
It just existed in your head.
The reflection used wasn't you,

Completely unaware could be anywhere/any time,
'Cause there was shift in the paradigm."

Clean Bandit - Dust Clears

1.10.13

detik-detik

"Mencari detik-detik jarum jam, 
untuk memberi ketukan pada mimpi - mimpi yang tertunda"

2.9.13

Wake Me Up When September Ends


25.8.13

honest

      "An honest answer
          is like a warm hug."

- Proverbs 24 : 26 (The Message)


24.8.13

YES, It is!


" It takes wisdom to build a house, 

and understanding to set it on a firm foundation; 
It takes knowledge to furnish its rooms
with fine furniture and beautiful draperies."

- Proverbs 24 :3 - 4 (The Message)

7.8.13

beautiful garden


#pinterest

7.7.13

me

One thing that describes me. DETAILS

30.6.13

Routine

Please, One more day to escape, to have a deep sleep.